TUGAS KEWARGANEGARAAN
TENTANG “JELASKAN BUDAYA YANG ADA DI DAERAH  (DOMPU) DAN KAITANNYA DENGAN PANCASILA”






                                                                          
                                      DISUSUN OLEH :
  1.        Khalifah adriani putri          Nim.J1B018040
  2.              Eva anriani                            Nim.J1B018022
  3.         Praditia yogi hariadi             Nim.J1B018074





PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2019







BUDAYA DAERAH DOMPU

NO.
BUDAYA DOMPU
TERJEMAHAN
KAITAN DENGAN PANCASILA
1.
     Wa’a co’i edeku budaya nika deka dou dompu, wa’a co’i ake ra karawi turun temurun ba douma tua mantoi . Budaya  wa’a co’i ake mbuipu warana sampesi ake . Wa’a co’i ake biasa kaina dikarawi tolu nai sawatip da nika di wa’a ba’ dou mone  aka uma dou siwe calon weina  . Wa’a co’i ake be lalopa katotu ba’ dou siwe , sesuai kesepakatan doum tua ma siwe . Ade nuntu kai co’i waraku difada ba’ keluarga ma mone . Isi co’i ma siwe  ede du’  biasa kaina almari,kadera sudu,meja,diva,seperangkat disambea kai,isi riha,masa labo piti . Wa’ursi sesuai kesepakan , ede ampo loa bagi undangan.

 
       Wa’a co’i (antar mahar) adalah budaya sebelum pernikahan didompu berlangsung,antar mahar sudah dilakukan secara turun temurun oleh orang tua jaman dulu,budaya antar mahar ini masih ada sampai sekarang . Antar mahar biasanya dilakukan tiga hari sebelum ijab kabul,dibawa oleh mempelai pria kerumah calon mempelai wanita . Antar mahar ini harus sesuai dengan permintaan mempelai wanita,sesuai kesepakatan orang tua mempelai wanita . Dalam pembicaraan mahar ada juga namanya tawar menawar dari pihak keluarga mempelai pria . Perlengkapan mahar biasanya yaitu,lemari,kursi,meja,ranjang tidur,seperangkat alat sholat,perlengkapan dapur,emas dan uang . Jika sudah sesuai kesepakatan ,undangan bisa disebarkan.


        Adapun nilai-nilai pancasila yang tertuang dalam budaya antar mahar(wa’a co’i)  berkaitan dengan pancasila yang keempat yaitu nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan  dan perwakilan karena budaya antar mahar ini lebih mengedepankan musyawarah  untuk mempertimbangkan kepentingan persatuan dan kesatuan serta membahas bersama dengan maksud mencapai keputusan bersama tanpa membebani pihak lain atas suatu masalah . Budaya antar mahar ini tidak bisa dilanjutkan atau dilakukan tanpa adanya kesepakatan dan musyawarah kedua belah pihak keluarga.
2.
       Mbolo weki ededu’ budaya dari ‘dompu katu’u ‘ba dou dikaboro inga kai piti nika dou aka rasa , budaya ake katu’u ‘ba dou swatip da akad nikah labo wa’a co’i . Mbolo weki ake tampu’u mulai acarana amangadi’ sawatip da tampu’u acarana dou ‘doho siwe-siwe aka rasa kompe ra pei ‘di ma  ndawi pangaha ru’u acara mbolo weki kai ,ma mone na dim tu’u baruga atau dim pasa terop mbolo weki . Dou ma mai tau piti mbolo weki di mbei pangaha ra ndawi ‘ba dou siwe-siwe aka rasa , piti ‘di tau ‘ba dou aka kampo rasa wati tentukan sebune-bune na ‘belalopa ne’ena tau bunes nggahi re se ikhlasnya . Piti hasil mbolo weki ede ‘di mbei dou atau keluarga ma katu’u nika ra nako anana . Acara mbolo weki ake ededu’ bentuk simpati dou aka rasa kampor pei ‘di ru’u ‘ba cina ra angina ma katu’u nika , mbolo weki katu’u ‘ba dou lokura tentukan ai ra nai ma taho di nika kai waursi nggori nuntu kesepakatan di’ baca ‘ba dou aka tando weki ma ore. Mbolo weki ake keluarga ma katu’u acara wati tanggu sra’a ‘ba ndai kesena biaya ‘dohona ‘dou aka rasa ra komper pei ede ‘dim inga weana,laina pori piti ‘di bantu kai ‘ba dou ta rasa kone ‘bongira pangaha ‘di mbeina.
       Mbolo weki (Melingkar) adalah budaya Dompu yang dieselenggarakan untuk mengumpulkan sumbangan dana dari masyarakat setempat,budaya ini diadakan sebelum akad nikah dan antar mahar . Mbolo weki (melingkar) acaranya dimulai pada malam hari sebelum acara malammnya dimulai kaum perempuan yang ada didaerah setempat akan membuat berbagai macam makanan atau kue untuk acara melingkar ,sedangkan kaum laki-laki membangun baruga atau memasang terop untuk acara melingkar (mbolo weki)  . Orang yang memberi sumbangan akan dikasih kue atau makanan yang dibuat oleh ibu-ibu setempat,uang yang disumbangkan oleh masyarakat tidak ditentukan berpa jumlahnya tapi seikhlasnya saja . Uang hasil melingkar (mbolo weki) akan diberikan pada keluarga yang menyelenggrakan pernikahan anaknya . Acara melingkar (mbolo weki)  ini adalah bentuk simpati masyarakat yang menyelenggrakan pernikahan , melingkar(mbolo weki) diselenggarakan oleh masyarakat untuk menentukan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan jika sudah ada kesepakatan maka kesepaakatan tersebut akan dibacakan didepan warga . melingkar (mbolo weki) ini,keluarga yang menyenlenggarakan acara tidak akan menanggung sendiri dananya tapi ada masyarakat setempat yang akan membantu, bukan hanya uang yang akan diberikan oleh warga namun bisa dalam bentuk pangan seperti beras dan kue yang akan diberikan.
        Adapun nilai-nilai pancasila yang terkandung dalam  budaya melingkar(mbolo weki) ini yaitu, terkandung dalam sila ketiga “persatuan indonesia” nilai-nilai yang terkandung didalmnya,salah satunya adalah nilai persatuan yang ditunjukan dalam sikap saling tolong menolong dan gotong royong . Hal ini dapat dilihat pada saat orang-orang mempersiapkan santapan,pra acara pasca mbolo weki sampai dengan penyatuan dukungan dan materi yang akan disumbangkan dalam melaksanakan mbolo weki.









SEMANGATLAH WAHAI DIRI YANG MEMBERONTAK INGIN SUKSES

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH HASIL HUTAN BUKAN KAYU

MAKALAH PENGETAHUAN BAHAN HASIL PERTANIAN

MAKALAH PENGETAHUAN BAHAN HASIL PERTANIAN “SIFAT FISIK MORFOLOGI,SIFAT KIMIA/BIOKIMIA,SIFAT FISIOLOGI DAN MIKROBIOLOGI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.)”